bachtiarpdicki

This WordPress.com site is the bee's knees


5 Comments

Pertemuan ke-VI SPN 29 (Topik: Komunikasi Keluarga)

Pemateri: Ust. Sunardi Badruzzaman, pada tgl. 26 Februari 2017.

 

IMG_20170323_100604

Foto: Sertifikat peserta SPN 29 beserta CD Materi dan Pin peserta SPN

Alhamdulillah, sebelumnya mau mengucapkan syukur terlebih dahulu karena telah diberi kesempatan untuk menyelesaikan Sekolah Pra Nikah (sebagai peserta angkatan ke-29 ini), yang mudah-mudahan dapat menjadi bekal bagi diri saya (aamiin, insyaallah) dalam menjalani kehidupan rumah tangga nanti ya ^^a. Dan, seiring dengan berakhirnya SPN 29 ini, alhamdulillah juga, akhirnya waktu saya lebih luang untuk memikirkan dan menyelesaikan riset/ penelitian (thesis). Semoga bisa bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang maksimal/ optimal, berkah dan manfaat serta dapat dipublikasi di jurnal internasional ataupun jurnal nasional, aamiin yra., bismillah, la haula wala kuwwata illa billaahil aliyyil ‘adzim :D.

Baiklah, ini ringkasan materi Komunikasi Keluarga, semoga bermanfaat:

  • Keluarga: “Jaringan orang-orang yang berbagi kehidupan mereka dalam jangka waktu yang lama; yang terikat oleh perkawinan, darah atau komitmen, legal atau tidak; yang menganggap diri mereka sebagai keluarga; dan yang berbagi pengharapan-pengharapan masa depan mengenai hubungan yang berkaitan.” (Galvin dan Brommel, 1991, Hlm. 3)
  • Yang memberikan syafa’at: Rasulullah Saw., Al-Qur’an dan Shaum serta keluarga kita.
  • Komunikasi keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh (gesture), intonasi suara, tindakan untuk menciptakan harapan image, ungkapan perasaan serta saling membagi pengertian. (Rae Sedwig – 1985, Dikutip dari Achdiat, 1997: 30)
  • Al-Mumtahanah: 4; QS. Al-Ahzab: 21 (“Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi kalian.”)
  • Nabi Adam As., diturunkan di India (Nepal), sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jeddah.
  • Kebanyakan keturunan Nabi dari Nabi Ibrahim As. (18 Rasul yang sudah diketahui)
  • Komunikasi kepada anaknya paling penting dilakukan oleh ayahnya (contoh: Nabi Ibrahim As. berkomunikasi dengan anaknya Nabi Ismail As.; dan Nabi Muhammad Saw. dengan anaknya, seperti: Siti Fatimah ra.)
  • Istri Nabi Ibrahim: Siti Sarah dan Siti Hajar.
  • Di Bandung, 4000 kasus perceraian dalam 1 tahun.
  • Istri biasanya ingin dikomunikasikan, contoh dalam penghasilan.
  • Contoh komunikasi Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail (anaknya): menanyakan kesediaan anaknya untuk disembelih karena mimpi yang diberikan oleh Allah; komunikasi dalam bekerjasama membangun pondasi Ka’bah.
  • Luqman: 13 (Komunikasi antara Nabi Luqman dengan anaknya) –> Pertama kali tanamkan pendidikan Aqidah pada anak (Anak Ust. Sunardi kelas 4 SD terbiasa membaca Al-Qur’an)
  • Perbedaan gantengnya Rasulullah Saw. dan Nabi Yusuf As. (Nah, lho kenapa jadi ke bahasan sini yah pak ustadz ^^” hhe…):

Apabila datang Nabi Saw., gantengnya menular ke sekitarnya (sahabat-sahabatnya). Sedangkan gantengnya Nabi Yusuf As., apabila Nabi Yusuf As. datang, maka laki-laki lain di sekitarnya seakan-akan menjadi “kurang ganteng”. Wallahu’alam bisshawwab :D.

  • Orang-orang yang berhasil mendidik anak, mereka yang dekat kepada anak.
  • Komunikasi Dalam Keluarga:
  1. Komunikasi pra pernikahan (komunikasi apa yang nampak)
  2. Komunikasi pasca pernikahan:
  3. Komunikasi dengan istri (contoh: komunikasi Nabi Muhammad Saw. dengan istrinya, seperti: Siti Aisyah –> berkomunikasi dalam sehari-hari)
  4. Komunikasi dengan anak
  5. Komunikasi dengan orang tua (selain orang tua sendiri, juga berkomunikasi dengan mertua –> pintar-pintarlah berkomunikasi)
  • Hal-hal yang menentukan gaya dan cara berkomunikasi:
    1. Suasana psikologis
    2. Lingkungan fisik
    3. Kepemimpinan
    4. Bahasa
    5. Perbedaan Usia
  • Tips berkomunikasi: puji pasangan kita, izin dulu kepada istri apabila ingin memberikan uang kepada keluarga, diskusi pekerjaan kepada istri.

 

Advertisements


1 Comment

Pertemuan ke-I Sekolah Pra-Nikah (SPN) Angkatan 29

Assalamu’alaikum wr. wb..

Seiring dengan bertambahnya usia, dari peralihan fase remaja awal menuju fase remaja akhir ini (^^”), yang berupaya untuk menjadi pribadi yang berkembang dari pribadi yang biasanya selalu mencari inspirasi dari orang lain dan berkeinginan ingin menjadi sedikit  menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain [khoirunnaasi ‘anfa uhum linnaas.. (HR. Bukhari-Muslim)] dan mungkin sudah tersadar, sudah harus ada perencanaan untuk “menyempurnakan setengah agama”, yaitu dengan menikah. Yang setengah sisanya dengan bertaqwa kepada Allah Swt. Kesimpulannya, sudah saatnya seorang great pirate yang masih berupaya hijrah ini mengarungi kehidupannya dengan pasangannya (to whom has function as a vice-captain, a navigator or etc..) #halah..hha.

Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda,

“Hai para pemuda, barang siapa diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”. (HR. Jamaah)

Nah, salah satu upaya yang dilakukan ceritanya saya mengikuti Sekolah Pranikah (SPN) yang diadakan oleh YPM Salman ITB-Bidang Dakwah. Dan sudah mengikuti pertemuan ke-I dengan topik materi Ta’aruf, pada hari minggu, tanggal 23 Januari 2017, jam 13.00 s/d selesai.

Kayaknya, kalau tanpa gambar/ ilustrasi serasa ada yang kurang ya, coba lampirkan gambar ah hha.. :

1429110307684

(Eh, anu.. kenapa yang muncul gambar ini ya hha.. anggap saja ini ilustrasinya seseorang yang sedang berusaha memantaskan/ memperbaiki diri menjadi pribadi yang insya Allah siap untuk menikah. Bukan mencari yang kira-kira kriteria perempuannya seperti diatas ini lho yah hha.. tapi terserah pembaca saja yang menyimpulkan lah yah hha..)

Ringkasan-ringkasan (yang benar-benar ringkas karena terkesima dengan para pematerinya hha..) pada Pertemuan I dengan topik Ta’aruf, yaitu:

  1. Materi Ta’aruf ke-I oleh Ust. Yedi Purwanto:
  • Kriteria pasangan: Bisa karena kecantikannya, kekayaan yang banyak, keturunannya dan/ atau agamanya (termasuk etikanya). Utamakan yang no. 4 atau agamanya.
  • Hakikat pernikahan: Pendidikan yang berkesinambungan dan merupakan sunnah nabi Muhammad Saw. untuk menyempurnakan agama. Hukum-hukum lainnya berkaitan dengan pernikahan, meliputi: Hukumnya wajib, dalam kondisi agar tidak terjerumus ke dalam perzinahan dan hukumnya haram apabila niatnya untuk menyakiti pasangannya.
  • Harus ta’aruf dulu (mengenal). Ta’aruf dilakukan harus dari berbagai sisi, meliputi: dilihat dari keturunannya yang banyak (mungkin berkaitan dengan faktor genetik tingkat kesuburan dari masing-masing pasangan, mungkin maksudnya dapat dilihat/ diamati dari jumlah saudara dari calon pasangan atau jumlah saudara dari ayah dan/ ibu dari calon pasangan), sakinah (menimbulkan ketenangan), mawaddah (menimbulkan rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang).
  • Urgensi pernikahan: pandangan akan terjaga (seakan tertutupi untuk melihat perempuan yang bukan istrinya), untuk menjaga farzi/ kemaluan agar tidak mendekati zina –> apabila belum mampu menikah, maka shaumlah (puasa).
  • Langkah-langkah mencari pasangan: yang beriman (berkeyakinan) kemudian dampingi dengan doa dan ikhtiar.
  • Darah yang keluar dari alat kelamin kaum hawa: haid, istihadah (diluar siklus haid) atau nifas.
  • Yang keluar dari alat kelamin kaum adam: sperma, madi (kecapekan secara fisik), wadi (kecapekan secara mental) dan air kencing.
  • Hikmah pernikahan: menciptakan ketenangan dan berprestasi dengan maksimal.
  • Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Agama, dapat sertifikat dengan lisensi dari KUA sehingga pas mau nikah tidak training lagi di KUA.
  • SPN ada 9 materi (include: tambahan materi baru, yaitu Komunikasi Keluarga).

2. Materi Ta’aruf ke-II oleh Ust. Evie Effendi:

  • QS. Al-Hujurat: 13
  • QS. Al-Anbiya: 105
  • Al-Baqarah: 213
  • Biasa sebagai narasumber kajian di Tv-One jam 04.00 a.m. Buku yang dihasilkan: Indonesia Tanpa Pacaran.
  • Litta’arofu .. ketemu di frekuensi yang sama, yang namanya keimanan.
  • Hal-hal yang harus disegerakan: shalat di awal waktu, mempercepat ibadah melakukan kebaikan (termasuk pernikahan)
  • Birrul walidaini ihsana…
  • Allah lagi, Allah dulu, lagi-lagi Allah –> poin terakhir ini maksud ustadz-nya yaitu istikharah.

Mungkin cukup sekian ringkasan materi berkaitan pertemuan ke-I SPN 29 dan pengenalan Sekolah Pranikah, mudah-mudahan bermanfaat. Dan sebenarnya saya tidak ada niatan untuk meneruskan menulis rangkuman pertemuan-pertemuan selanjutnya, hanya memberikan pengenalan saja bagi pembaca mengenai SPN ini hha.. mohon maaf sebelumnya dan terima kasih :). Wassalaamu’alaikum wr. wb.