bachtiarpdicki

This WordPress.com site is the bee's knees


Leave a comment

Bermulai dari Diri Sendiri, Sekarang, Terkecil dan Disini

This slideshow requires JavaScript.

Mungkin teman-teman bertanya, lho kok, apa yang dimaksud judul artikelnya yang “Bermulai dari Diri Sendiri, Sekarang, Terkecil dan Disini?”. Jawaban dari maksud judul artikel ini yaitu suatu bentuk perbuatan kebaikan. Nah, memangnya perbuatan kebaikan seperti apa? Saya mungkin menjelaskan bentuk kebaikan secara umum tetapi mengambil beberapa contoh bentuk kebaikan spesifik tertentu… Misal nih,

  1. Dengan membantu kesulitan orang lain hingga terbantukan atau bahkan terselesaikan solusinya;
  2. Memberikan hadiah (atau oleh-oleh) bagi keluarga, tetangga, teman atau kerabat kita;
  3. Menjaga amanah dan melakukan kontribusi sesuai tugas dan kewajiban kita apabila dipercayai sebagai salah satu pengurus atau pemimpin di suatu organisasi. Karena sebenarnya, sesuai pepatah kuno Belanda, “Leiden is Lijden (Memimpin adalah menderita)”. Oleh karena itu, sebenarnya saya mengagumi sikap Abdurrahman bin ‘Auf ra. ketika terpilih menjadi salah satu calon pemimpin dari 6 calon pemimpin yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab ra. untuk menggantikan beliau, dan kemudian jumlah calonnya mengerucut menjadi 3 calon pemimpin (dalam musyawarah, nama kandidat mengerucut menjadi tiga, yaitu: Utsman, Ali dan Abdurrahman bin ‘Auf. Itu terjadi setelah tiga anggota formatur memilih tiga lainnya. Zubair memilih Ali, Thalhah memilih Utsman, sedangkan Sa’ad memilih Abdurrahman bin ‘Auf). Yang kemudian, Abdurrahman bin ‘Auf melepaskan haknya untuk dipilih dan akhirnya diamanahi sebagai ketua Majelis untuk pemilihan antara 2 kandidat, yaitu antara Utsman ra. dan Ali ra.;
  4. Bahkan menunjukkan senyum atau wajah ceria terhadap saudara kita termasuk bernilai sedekah bagi kita. Sesuai salah satu hadist Rasulullah Saw., dari Abu Dzar r.a., dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “tabassumuka fii wajhi akhiika laka shodaqoh (Senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu)” (HR. At-Tirmidzi (No. 1956), Ibnu Hibban (No. 474 dan 529) dll., dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh At-Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani dalam “Ash-Shahihah” (No. 572). Tapi, #reminder bagi diri sendiri dan teman-teman, terkait soal senyuman ini, para ulama memberi syarat bolehnya seorang muslim/ muslimah tersenyum pada lawan jenisnya, yaitu, selama tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Berarti sering-seringnya pasang poker face/ wajah lempeng mungkin yah kalau sama lawan jenis dan sekedarnya saja, seperti emoticon ini -.- hhe.. kecuali dapat dipuas-puaskan senyum sama pasangan halal kita, eh, keluarga mahram kita maksudnya hhe (lagi)..
  5. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan buku-buku bermanfaat lainnya [karena perintah Allah Swt. terhadap Rasul Saw. dan umatnya (termasuk kita) adalah dengan bacalah, nah kan, jadi tertampar lagi ini -.-“. Karena membaca 1 huruf dari Al-Qur’an mendapat 10 kebaikan #reminder].
  6. Dan beberapa bentuk kebaikan lainnya yang mungkin tidak pernah saya lakukan atau bahkan belum terpikirkan sama sekali untuk dilakukan ^^a..

Kebaikan yang dilakukan mulailah dari melakukan perubahan atau perbaikan diri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik dan dimulai dari sekarang seperti mengurangi atau bahkan mengganti kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik menjadi lebih baik (menjadi lebih disiplin, meningkatkan rutinitas membaca, banyak berkata baik atau diam sesuai ajaran Nabi Muhammad Saw. dan lain-lain). Oh iya, kenapa kita harus merutinkan membaca? #Reminder bagi diri sendiri juga, karena buku adalah obat. Sesuai kata-kata bijak, A library is a hospital for the mind. Reading improves the mind, like a hospital improves the body.

Kebaikan yang dilakukan dapat dimulai dari hal-hal terkecil dan “disini”, memulainya dapat dari lingkungan terdekat atau di lingkungan masyarakat kita. Bergaullah, bersosialisasilah, turun tanganlah untuk bantu-bantu. Sediakan waktu, meski sesaat untuk berbincang dengan mereka. Bahkan jika malu, cukup jadilah pendengar yang baik. Respon dengan senyummu sesekali. #Reminderbagidirisendirilagi

Mungkin, sebagai kalimat penutup mengenai #reminder untuk berbuat kebaikan yang “bemulai dari diri sendiri, sekarang, terkecil dan disini”, saya coba cantumkan salah satu nasihat Buya Hamka, yaitu: Man proposes, Allah disposes; it means you have to do the best you can, but you can’t control everything. Jadi, akhirnya segala perbuatan kita dikembalikan lagi kepada Allah Swt. akan bermuara dimana nantinya hhe.. wa’alaikumsalam wr. wb. guys :D.


Leave a comment

Merasa Mengalami Berbagai Banyak Masalah? Marilah Perbanyak Bersyukur :D #Reminder

20140817_062111-1

Picture 1. This kind of sunrise moment could make you more be grateful

Mungkin sudah menjadi fitrahnya bagi manusia, begitu dihadapkan dengan setumpuk masalah, akhirnya ia merindukan suatu keajaiban.  Sejenak mari kita amati dan cermati kejadian-kejadian berikut ini (dikutip dari salah satu buku karya Ippho Santosa):

– Mengalami sakit keras, kemudian tahu-tahu sembuh. Itulah keajaiban!

– Tabrakan maut, hanya kita yang selamat. Itulah keajaiban!

– Divonis mandul, akhirnya punya anak. Itulah keajaiban!

– Nyaris bercerai, akhirnya kembali rujuk. Itulah keajaiban!

– Anak badung, tiba-tiba menjadi sholeh. Itulah keajaiban!

– Utang miliaran, tiba-tiba lunas. Itulah keajaiban!

Benarkah hal-hal tersebut keajaiban? Ya, betul. Akan tetapi, yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mengalami sakit keras, tabrakan maut dan nyaris bercerai itu saja sudah cukup disebut keajaiban. Benar apa benar?

Dengan kata lain, bukan nikmat yang kurang. Mungkin rasa bersyukur kita yang kurang. Oleh karena itu, mungkin kita harus rajin bersyukur dan menjauhi kufur, niscaya rezeki semakin deras mengucur. Bukankah selama ini nikmat-Nya teramat banyak, tak terukur?

Mungkin bisa dibilang saat ini, saya merasa bersyukur dan juga merasa sedih disaat yang bersamaan karena hasil akademik semester ini (semester II), sebenarnya alhamdulillah saya mendapat nilai A untuk 2 mata kuliah tetapi mendapat nilai T juga untuk 2 mata kuliah (T = Tunda, nilai mutunya belum bisa dikeluarkan kemungkinan besar harus diperbaiki dengan tugas tambahan/ ujian remidial). Saya coba menyikapinya dengan respon yang positif, yaitu dengan mencoba untuk bersyukur terlebih dahulu. Karena toh, sebenarnya ini merupakan hasil jerih saya sendiri yang bagaimanapun telah berhasil mendapatkan nilai A untuk 2 mata kuliah, meskipun didampingi dengan nilai T untuk 2 mata kuliah juga haha.. ^^”.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)

“Dah mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat-ayat di atas menjadi pengingat (reminder), khususnya bagi saya pribadi, bahwa apabila kita mengalami berbagai banyak masalah, salah satu solusinya dengan perbanyak bersyukur yang dibarengi dengan sabar yang proaktif, shalat dan do’a kepada Allah SWT.

Saya coba tutup topik ini dengan cerita lucu yang diceritakan oleh Ippho Santosa (masih berkaitan dengan penanaman sikap positif dan rasa syukur tapi dalam ruang lingkup rumah tangga hha..):

Seorang suami menyesal telah mengusir istrinya. Lalu ia menelepon istrinya, “Sayang, maafkan aku. Aku mau kamu kembali.”

Istrinya menjawab, “Hm, di dekatmu ada gelas?”

Suami, “Hah, gelas? Enggak ada, emang kenapa?”

Istri, “Kalau begitu, pergi ke dapur. Ambil sekarang.”

Suami, “Kayaknya kamu mulai aneh. Tapi enggak apa-apa, aku ambil.”

Istri, “Sudah? sekarang lemparkan gelas itu ke lantai.”

Suami, “Baiklah, sayang. Aku lempar gelasnya.”

Istri, “Sekarang, susun kembali gelas itu seperti semula. Mungkin? Enggak mungkin kan? Begitu juga hatiku. Sudah hancur.”

Suami, “Tapi sayang. Gelasnya enggak pecah, soalnya tadi gelas plastik.”

Istrinya terdiam sekian saat. Lalu dengan nada rendah ia berkata, “Ya sudah, habis Maghrib cepetan jemput aku ya.”