bachtiarpdicki

This WordPress.com site is the bee's knees

Barakallahu Laka – Perjalanan Pernikahan Faizah dan Dicki [And We Created you in pairs (QS. 78: 8)]

Leave a comment

IMG_0770

“Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini penuh kebaikan, pertengahannya rezeki-rezeki yang baik dan bagian akhirnya suatu keberuntungan.” (Anonim)

Sabtu, 27 Januari 2018, pertama kalinya bertemu tatap muka dengan Faizah Min Fadhlillah di Perpustakaan FMIPA UNIGA-Garut dengan suguhan yang sudah tersedia kue Kukus Ubi Cilembu khas Sumedang dan air putih (alhamdulillah). Dari pihak saya, ditemani oleh Doni Anshor Nuari (teman seangkatan Magister Farmasi ITB yang juga dosen Farmakologi Klinik-Farmasi Klinik di UNIGA) dan kang Aji (dosen Teknologi Farmasi UNIGA), sedangkan dari pihak istri ada teman dekat atau perantara, yaitu: bu Siti (salah satu teman dekat istri yang juga dosen Teknologi Farmasi UNIGA, alhamdulillah-nya, suaminya orang Tasikmalaya juga jadi sedikit terbantu selama proses pertemuannya ^^” hhe) dan Fathan (atau panggilan lainnya bang Fathan) yang merupakan adik kandung pertama dari istri. Dimana, sehari sebelumnya, kami sudah saling menukar CV atau biodata Ta’aruf via perantara masing-masing. Ketika proses pertukaran CV tersebut saya sebenarnya merasa kagum akan sosok perempuan di CV tersebut dan sekaligus minder terhadap diri saya sendiri ^^” hha.

Rabu, 31 Januari 2018, silaturahim untuk pertama kalinya ke rumah orang tua istri di rumahnya yang kebetulan waktunya bertepatan dengan Gerhana Bulan dari pkl. 20.00-22.00. Saya ikut shalat Khusuf di masjid komplek perumahannya (masjid Al-Ihsan) dan jama’ahnya semenjak shalat Isya sampai selesai shalat Khusuf lumayan banyak, alhamdulillah :D.

Sabtu, 17 Maret 2018, saya dan keluarga bersilaturahim ke keluarga istri di Rancaekek. Selain silaturahim, tujuan lainnya juga untuk mencoba meng-khitbah Faizah M. F. yang diwakili penyampaiannya oleh bapak saya dan uwa Asep (Drs. Asep Badruzzaman). Rombongan dari keluarga saya ada Apih (bapak), mamah, adik, kang Yayat, Uwa Heri dan Uwa Asep.

Sabtu, 28 April 2018, keluarga istri bersilaturahim ke keluarga saya di Tasikmalaya. Keluarga istri yang datang yaitu Abi, ummi, istri, Fathan, U Fawwidh (Awidh), Fakhuriy (Awung) dan Faykar.

Minggu, 15 Juli 2018, “saya terima nikah dan kawinnya Faizah Min Fadhlillah binti Ade Kosasih Ridwan dengan mahar 25 g emas (dalam bentuk logam batang mulia) secara tunai..”. Ikrar suci tersebut saya ucapkan di depan penghulu, keluarga saya, keluarga istri saya dan beberapa tamu undangan. Sesaat saya sempat tertunduk diam, jantung ini berdetak lebih keras dari biasanya. Mengingat perwalian atau tanggung jawab seorang perempuan yang sudah berpindah dari ayahnya kepada saya sebagai suaminya, maka seketika meneteslah air mata yang sedari tadi ditahan-tahan. Ya Allah, Engkau Saksikan saat ini saya mulai meniti kehidupan baru sesuai perintah-Mu dan ajaran Rasul-Mu. Kini saya resmi melepaskan status lajang, tidak sendiri lagi. Kini saya berstatus suami dari seorang perempuan yang akan saling mencintai hingga akhir hayat (insyaallah). Alhamdulilllahirobbil ‘alamin.

Di balik kebahagiaan itu sempat terselip kegundahan. Kegelisahan yang sesungguhnya telah menempel sejak jauh sebelum ikrar suci itu diucapkan. Kegelisahan akan beban tanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluarga, mencukupi kebutuhan mereka. Bagaimana tidak? Bahkan, saat ijab kabul itu diucapkan, saya masih berstatus pelajar mahasiswa S2 yang sedang menyelesaikan tugas akhir Thesis dan baru mendapat pekerjaan beberapa bulan sebelumnya  atau dikasih kepercayaan sebagai dosen honorer untuk mata kuliah tertentu di kampus Universitas Al-Ghifari, Bandung.

Prosesi pernikahan saya telah usai, perjalanan panjang rumah tangga saya dimulai. Bagaimanapun saya harus siap menghadapinya. Alhamdulillah, saat ini istri sedang dalam kondisi masa kehamilan anak pertamanya yang memberikan tambahan kebahagiaan dan harapan baru bagi saya, istri dan keluarga kami berdua. Robbi habli minasshoolihin.. “Wahai Rabb-ku, Karuniakanlah aku keturunan yang shaleh.” Ya Allah, Bimbinglah hamba dan istri hamba untuk mendidik seluruh anak kami hingga kelak menjadi sebaik-baik hamba yang akan meninggikan kalimat-Mu, menambah bobot bumi ini dengan mentauhidkan-Mu, menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi banyak orang dan seluruh alam semesta Ciptaan-Mu.

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s