bachtiarpdicki

This WordPress.com site is the bee's knees


1 Comment

Pertemuan ke-I Sekolah Pra-Nikah (SPN) Angkatan 29

Assalamu’alaikum wr. wb..

Seiring dengan bertambahnya usia, dari peralihan fase remaja awal menuju fase remaja akhir ini (^^”), yang berupaya untuk menjadi pribadi yang berkembang dari pribadi yang biasanya selalu mencari inspirasi dari orang lain dan berkeinginan ingin menjadi sedikit  menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain [khoirunnaasi ‘anfa uhum linnaas.. (HR. Bukhari-Muslim)] dan mungkin sudah tersadar, sudah harus ada perencanaan untuk “menyempurnakan setengah agama”, yaitu dengan menikah. Yang setengah sisanya dengan bertaqwa kepada Allah Swt. Kesimpulannya, sudah saatnya seorang great pirate yang masih berupaya hijrah ini mengarungi kehidupannya dengan pasangannya (to whom has function as a vice-captain, a navigator or etc..) #halah..hha.

Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda,

“Hai para pemuda, barang siapa diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”. (HR. Jamaah)

Nah, salah satu upaya yang dilakukan ceritanya saya mengikuti Sekolah Pranikah (SPN) yang diadakan oleh YPM Salman ITB-Bidang Dakwah. Dan sudah mengikuti pertemuan ke-I dengan topik materi Ta’aruf, pada hari minggu, tanggal 23 Januari 2017, jam 13.00 s/d selesai.

Kayaknya, kalau tanpa gambar/ ilustrasi serasa ada yang kurang ya, coba lampirkan gambar ah hha.. :

1429110307684

(Eh, anu.. kenapa yang muncul gambar ini ya hha.. anggap saja ini ilustrasinya seseorang yang sedang berusaha memantaskan/ memperbaiki diri menjadi pribadi yang insya Allah siap untuk menikah. Bukan mencari yang kira-kira kriteria perempuannya seperti diatas ini lho yah hha.. tapi terserah pembaca saja yang menyimpulkan lah yah hha..)

Ringkasan-ringkasan (yang benar-benar ringkas karena terkesima dengan para pematerinya hha..) pada Pertemuan I dengan topik Ta’aruf, yaitu:

  1. Materi Ta’aruf ke-I oleh Ust. Yedi Purwanto:
  • Kriteria pasangan: Bisa karena kecantikannya, kekayaan yang banyak, keturunannya dan/ atau agamanya (termasuk etikanya). Utamakan yang no. 4 atau agamanya.
  • Hakikat pernikahan: Pendidikan yang berkesinambungan dan merupakan sunnah nabi Muhammad Saw. untuk menyempurnakan agama. Hukum-hukum lainnya berkaitan dengan pernikahan, meliputi: Hukumnya wajib, dalam kondisi agar tidak terjerumus ke dalam perzinahan dan hukumnya haram apabila niatnya untuk menyakiti pasangannya.
  • Harus ta’aruf dulu (mengenal). Ta’aruf dilakukan harus dari berbagai sisi, meliputi: dilihat dari keturunannya yang banyak (mungkin berkaitan dengan faktor genetik tingkat kesuburan dari masing-masing pasangan, mungkin maksudnya dapat dilihat/ diamati dari jumlah saudara dari calon pasangan atau jumlah saudara dari ayah dan/ ibu dari calon pasangan), sakinah (menimbulkan ketenangan), mawaddah (menimbulkan rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang).
  • Urgensi pernikahan: pandangan akan terjaga (seakan tertutupi untuk melihat perempuan yang bukan istrinya), untuk menjaga farzi/ kemaluan agar tidak mendekati zina –> apabila belum mampu menikah, maka shaumlah (puasa).
  • Langkah-langkah mencari pasangan: yang beriman (berkeyakinan) kemudian dampingi dengan doa dan ikhtiar.
  • Darah yang keluar dari alat kelamin kaum hawa: haid, istihadah (diluar siklus haid) atau nifas.
  • Yang keluar dari alat kelamin kaum adam: sperma, madi (kecapekan secara fisik), wadi (kecapekan secara mental) dan air kencing.
  • Hikmah pernikahan: menciptakan ketenangan dan berprestasi dengan maksimal.
  • Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Agama, dapat sertifikat dengan lisensi dari KUA sehingga pas mau nikah tidak training lagi di KUA.
  • SPN ada 9 materi (include: tambahan materi baru, yaitu Komunikasi Keluarga).

2. Materi Ta’aruf ke-II oleh Ust. Evie Effendi:

  • QS. Al-Hujurat: 13
  • QS. Al-Anbiya: 105
  • Al-Baqarah: 213
  • Biasa sebagai narasumber kajian di Tv-One jam 04.00 a.m. Buku yang dihasilkan: Indonesia Tanpa Pacaran.
  • Litta’arofu .. ketemu di frekuensi yang sama, yang namanya keimanan.
  • Hal-hal yang harus disegerakan: shalat di awal waktu, mempercepat ibadah melakukan kebaikan (termasuk pernikahan)
  • Birrul walidaini ihsana…
  • Allah lagi, Allah dulu, lagi-lagi Allah –> poin terakhir ini maksud ustadz-nya yaitu istikharah.

Mungkin cukup sekian ringkasan materi berkaitan pertemuan ke-I SPN 29 dan pengenalan Sekolah Pranikah, mudah-mudahan bermanfaat. Dan sebenarnya saya tidak ada niatan untuk meneruskan menulis rangkuman pertemuan-pertemuan selanjutnya, hanya memberikan pengenalan saja bagi pembaca mengenai SPN ini hha.. mohon maaf sebelumnya dan terima kasih :). Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Advertisements


Leave a comment

Merasa Mengalami Berbagai Banyak Masalah? Marilah Perbanyak Bersyukur :D #Reminder

20140817_062111-1

Picture 1. This kind of sunrise moment could make you more be grateful

Mungkin sudah menjadi fitrahnya bagi manusia, begitu dihadapkan dengan setumpuk masalah, akhirnya ia merindukan suatu keajaiban.  Sejenak mari kita amati dan cermati kejadian-kejadian berikut ini (dikutip dari salah satu buku karya Ippho Santosa):

– Mengalami sakit keras, kemudian tahu-tahu sembuh. Itulah keajaiban!

– Tabrakan maut, hanya kita yang selamat. Itulah keajaiban!

– Divonis mandul, akhirnya punya anak. Itulah keajaiban!

– Nyaris bercerai, akhirnya kembali rujuk. Itulah keajaiban!

– Anak badung, tiba-tiba menjadi sholeh. Itulah keajaiban!

– Utang miliaran, tiba-tiba lunas. Itulah keajaiban!

Benarkah hal-hal tersebut keajaiban? Ya, betul. Akan tetapi, yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mengalami sakit keras, tabrakan maut dan nyaris bercerai itu saja sudah cukup disebut keajaiban. Benar apa benar?

Dengan kata lain, bukan nikmat yang kurang. Mungkin rasa bersyukur kita yang kurang. Oleh karena itu, mungkin kita harus rajin bersyukur dan menjauhi kufur, niscaya rezeki semakin deras mengucur. Bukankah selama ini nikmat-Nya teramat banyak, tak terukur?

Mungkin bisa dibilang saat ini, saya merasa bersyukur dan juga merasa sedih disaat yang bersamaan karena hasil akademik semester ini (semester II), sebenarnya alhamdulillah saya mendapat nilai A untuk 2 mata kuliah tetapi mendapat nilai T juga untuk 2 mata kuliah (T = Tunda, nilai mutunya belum bisa dikeluarkan kemungkinan besar harus diperbaiki dengan tugas tambahan/ ujian remidial). Saya coba menyikapinya dengan respon yang positif, yaitu dengan mencoba untuk bersyukur terlebih dahulu. Karena toh, sebenarnya ini merupakan hasil jerih saya sendiri yang bagaimanapun telah berhasil mendapatkan nilai A untuk 2 mata kuliah, meskipun didampingi dengan nilai T untuk 2 mata kuliah juga haha.. ^^”.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)

“Dah mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat-ayat di atas menjadi pengingat (reminder), khususnya bagi saya pribadi, bahwa apabila kita mengalami berbagai banyak masalah, salah satu solusinya dengan perbanyak bersyukur yang dibarengi dengan sabar yang proaktif, shalat dan do’a kepada Allah SWT.

Saya coba tutup topik ini dengan cerita lucu yang diceritakan oleh Ippho Santosa (masih berkaitan dengan penanaman sikap positif dan rasa syukur tapi dalam ruang lingkup rumah tangga hha..):

Seorang suami menyesal telah mengusir istrinya. Lalu ia menelepon istrinya, “Sayang, maafkan aku. Aku mau kamu kembali.”

Istrinya menjawab, “Hm, di dekatmu ada gelas?”

Suami, “Hah, gelas? Enggak ada, emang kenapa?”

Istri, “Kalau begitu, pergi ke dapur. Ambil sekarang.”

Suami, “Kayaknya kamu mulai aneh. Tapi enggak apa-apa, aku ambil.”

Istri, “Sudah? sekarang lemparkan gelas itu ke lantai.”

Suami, “Baiklah, sayang. Aku lempar gelasnya.”

Istri, “Sekarang, susun kembali gelas itu seperti semula. Mungkin? Enggak mungkin kan? Begitu juga hatiku. Sudah hancur.”

Suami, “Tapi sayang. Gelasnya enggak pecah, soalnya tadi gelas plastik.”

Istrinya terdiam sekian saat. Lalu dengan nada rendah ia berkata, “Ya sudah, habis Maghrib cepetan jemput aku ya.”