bachtiarpdicki

This WordPress.com site is the bee's knees


Leave a comment

Kolaborasi Interprofesional para Tenaga Kesehatan di Indonesia dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)

POSTER PROMKES IMUNISASI editedGambar. Salah Satu Upaya Mahasiswa Farmasi dalam Melakukan Promosi Kesehatan ketika Melakukan Praktek Kerja Profesi Periode Bulan Juli di RS. Rajawali, Bandung. (Bentuk Promosi Kesehatan Hanya Sampai Pada Penempelan di Informasi Kesehatan/ Majalah Dinding di RS. Rajawali Belum Sampai Presentasi/ Penyuluhan kepada Masyarakat Langsung hehe.. Terima kasih kepada pembimbing: Dra. Emma Surachman, MS., Apt. dan Ivan Surya Pradipta, M.Si., Apt., atas bimbingannya selama praktek kerja profesi berlangsung :D)

Farmasis atau Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan yang mungkin peranannya dalam “pelayanan kesehatan” (khususnya di RS) masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat, khususnya di Indonesia (berbeda halnya bagi apoteker yang sudah lebih dikenal di industri Farmasi ataupun di Pemerintahan (BPOM dan Dirjen Binfar karena banyak pegawainya dengan background Farmasis/ Apoteker). Karena, dalam dunia perkuliahan pun sebenarnya mahasiswa farmasi banyak sekali bidang/ cabang ilmu pengetahuan yang dipelajari dan mengenai ilmu pelayanan kefarmasiannya mungkin baru mulai dirasakan atau lebih tepatnya diperkenalkan ketika tingkat II atau III (seperti mulai diajarkan teknologi sediaan farmasi, farmakologi-toksikologi, kimia klinik, kimia medisinal dll.). Tetapi, tetap dirasakan oleh mahasiswa farmasis dalam pengenalan karir kedepannya & percobaan pengaplikasian ilmu/ pengetahuan yang didapat selama perkuliahan S1 melalui pelaksanaan perkuliahan profesi Apoteker (masih lingkup S1, menegaskan hak & wewenang tambahan dengan sumpah profesi pada sarjana farmasi). Dimana, disini terbagi menjadi 4 bidang praktek kerja profesi, yaitu: Industri Farmasi, Rumah Sakit, Pemerintahan (Badan POM, mungkin kedepannya farmasis mencoba di sektor pemerintahan lain nih, seperti Kemenkes/ Dirjen Binfar, dkk. hhe..) dan Apotek (Farmasis Komunitas). Dan, jangan salah, terkadang salah satu bidang dengan bidang lainnya bisa dikatakan sulit untuk dintegrasikan karena ilmu-ilmu yang dipelajari sulit untuk dikaitkan pada masing-masing bidang. Seperti bidang Industri Farmasi dengan Rumah Sakit/ Farmasis Komunitas (Apotek), sedikit sekali materi yang bisa dikombinasikan. Terlihat seperti puzzle pada masing-masing bidang untuk mencoba digabungkan ^^a.

Sehubungan dengan peran organisasi IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) menekankan pada farmasis/ apoteker yang bekerja di bidang pelayanan (RS ataupun Apotek/ Klinik) untuk kompeten, komitmen dan secara professional melaksanakan “pelayanan kefarmasiannya”, sesuai dengan Peraturan Pemerintahan yang berlaku (mungkin, PP no. 51 tahun 2009 yang itu salah satunya kali yah ^^a). Apalagi kedepannya akan menghadapi EAC (Economic Asean Community)/ Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di akhir Desember 2015 ini dalam segala aspek/ bidang.. tapi, sstt.. sebenarnya, ini hanya gong/ gembar-gembornya saja kalau kata “sesepuh”. Jadi jangan takut, sebenarnya kita sudah mengalaminya kok.. contoh, produk luar negeri apa sih yang belum ada di negara Indonesia tercinta ini? Hampir dengan mudahnya kita temukan produk-produk luar negeri di dalam negeri kita. Solusinya, cobalah bagi kita untuk mempertimbangkan pemakaian atau penggunaan produk-produk dalam negeri yang kita kira cukup berkualitas dibandingkan membeli/ menggunakan produk-produk luar negeri. Jadi, tidak ada salahnya kan mempertimbangkan penambahan kategori “produk dalam negeri” dalam kriteria pemilihan produk/ jasa yang kita gunakan? yah meskipun kita tahu itu sulit hehe.. Be wise for your country guys.. ^^.

Itu baru berkaitan dengan produk, belum berkaitan dengan jasa, atau salah satunya berkaitan mengenai tenaga kerja. Teringat ketika mengikuti salah satu seminar nasional, pemateri menyinggung mengenai hal ini. Beliau mengatakan, bagi para pekerja di Indonesia.. tenang saja tetapi harus tetap siap siaga juga dalam berbagai aspek (kompetensi, bahasa asing, dll.), karena toh industri atau instansi-instansi di dalam negeri insya Allah akan mengutamakan para pekerja di Indonesia kok. Karena tidak perlu mempertimbangkan lagi mengenai latar belakang budaya, agama, adat dan kebiasaan, bahasa dan faktor-faktor sejenis lainnya.. karena hal tersebut sudah dianggap sesuai/ cocok dengan instansi tempat bekerja di Indonesia. Tetapi, bila berkaitan dengan persaingan industri luar terhadap industri dalam negeri, mungkin hambatan bagi pihak mereka (atau kita bila industri kita ingin ekspansi keluar negeri) umumnya berkaitan dengan regulasi pemerintah masing-masing.. tetapi mengingat dana/ modal awal yang dimiliki oleh industri-industri luar negeri yang maju yang biasanya besar-besar modalnya rasanya jadi tidak adil juga yah ^^a.

Nah, mengenai menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), tenaga kesehatan khususnya di Indonesia diharuskan untuk melakukan kolaborasi interprofesional baik dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, radiologis dan rekan sejawat lainnya dalam bidang pelayanan kesehatan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, meningkatkan outcome yang lebih baik, efektif dan efisien, mengurangi medication error, mengurangi/ mencegah reaksi obat yang merugikan terhadap pasien, meningkatkan kompetensi masing-masing tenaga kesehatan, mengurangi prasangka negatif dari masing-masing pihak tenaga kesehatan dan hal-hal positif lainnya yang kira-kira relevan mengenai tujuan pelaksanaan kolaborasi interprofesional ini. Semoga tenaga kesehatan di Indonesia menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, berdedikasi dan profesional yah.. termasuk, saya (Dicki Bakhtiar P.) sebagai tenaga kesehatan (pengennya disebut juga yang status terakhirnya bekerja di industri Farmasi ini hha..^^a)pekerja di industri, tenaga akademisi di institusi kesehatan di Universitas/ institusi lainnya serta instansi-instansi yang masih bersinggungan untuk memajukan kesehatan masyarakat di Indonesia (Industri Farmasi, BPOM, Dirjen Binfar, BPJS, dan instansi lainnya). Mungkin hanya sebatas ini mengenai pandangan ataupun pendapat/ opini dari salah satu tenaga kesehatan yang awam ini hehe.. mengenai pentingnya peran kolaborasi interprofesional kedepannya dalam menghadapi MEA/ EAC ini. Terima kasih sebelumnya, semoga bermanfaat :).

*note: itu yang coretan jangan diambil hati yah teman-teman pembaca sekalian, harap dimaklum ^^.