bachtiarpdicki

This WordPress.com site is the bee's knees


Leave a comment

Peringatan Tahun Baru Hijriah 1434 H :)

Sekedar mau review + sharing 🙂 kegiatan peringatan tahun baru hijriah 1434 H ini di Masjid Al – Muhajirin (komplek Bukit Cipageran Indah, Jln. H. Gofur, Cimahi) pada tanggal 8 Desember 2012 (atau tanggal 25 Muharram 1434 H).

Yang menarik dari peringatan ini adalah acaranya berupa tausiyah oleh Bapak Dr. Aam Amirudin, salah satu ustadz terkenal di kota Bandung yang juga biasa memberikan ceramahnya di saluran televisi SCTV pada dini hari dalam acara Titian Qalbu (rada-rada lupa jg nama acaranya, maaf2 klo salah :P) serta saluran-saluran tv lainnya. Pak Aam ini jg sudah mengeluarkan banyak buku keagamaan, masalah kehidupan sehari-hari dan motivasi. Seingat saya, pembawa acaranya menyampaikan bahwa buku terakhir yang beliau keluarkan berisi tentang Tafsir Al – Qur’an Kontemporer jilid 3 dan juga beliau ini seorang dosen S2 di Universitas Padjajaran— Bandung.

Pak Aam ini mestinya mulai tausyiah pada pukul 19.30, akan tetapi beliau baru sampai di komplek Bukit Cipageran Indah pada pukul 20.30 :P. Hal ini dikarenakan beliau mendapat “musibah kecil” atau bisa dikatakan juga kejadian lucu hheh.. yaitu, mobilnya selama +/- 1 jam tidak dapat keluar dari parkirnya karena terhalang oleh 1 mobil di belakangnya (berlokasi di Bandung tempat beliau tausiyah), yang beliau sampaikan bahwa orang-orang di sekitar tidak mengetahui siapa mobil yang telah parkir tersebut sampai pencarian selama 1 jam baru ditemukan hhahh..

Setelah sampai, pak Aam ini ternyata langsung dikerubungi sebagian jamaah Al – Muhajirin hanya sekedar berjabat tangan dan menyapa :). Daan, subhanallah jujur saja yah itu giginya putih cemerlang meskipun memang wajahnya juga tidak kalah cerah pada pukul setengah 9 malam ini ^^a. Rupanya selidik punya selidik, beliau menceritakan bahwa pak Aam ini selalu mengikuti sunnah rasul menggosok gigi sebelum shalat 5 waktu… kereenlah, Pak mantep.. pantesan segeer hheh…

Langsung saja ke poin-poin taushiyah pak Aam yah :D..

Beliau mengatakan bahwa semestinya seluruh muslim itu harus menanamkan 3 poin dalam meningkatkan karakternya di jaman ini, yaitu :

  1. Berpikir Futuristik (berpikir jauh ke depan, memiliki visi dan misi yang baik bagi masa depan diri dan sekitar)
  2. Dinamis (Kita harus terus bergerak, bahkan pak Aam mengumpamakan bahwa mestinya seorang istripun apabila mendapati suaminya pulang kerja langsung menawarkan membuka sepatunyalah, memberikan minumanlah, selalu tersenyum cerahlah, ini… itulah hhehh.. dan katanya melanjutkan perumpamaannya, jangan sampai si suami pulang kerja terus mendapatkan istrinya cemberut (karena telah menonton adegan antagonis dalam suatu sinetron :P), dan hanya selalu berpakaian daster berwarna kuning dengan gambar strawberry saja selama satu minggu. Hahah… itu mngkin contoh lucu yang beliau paparkan, tentang pentingnya dinamis disini… mesti selalu ada pergerakan ke arah yang baik.
  3. Continual Improvement (Perbaikan terus menerus)

Dan juga beliau menjelaskan bahwa kematian itu terbagi menjadi 3 misteri. Yaitu :

  1. Misteri tempat (Bisa saja, kematian kita tidak di kota Tasikmalaya ataupun kota Cimahi, tetapi malah di kota Makkah :))
  2. Misteri Waktu (Ini jelas sekali, benar-benar hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui)
  3. Misteri Cara

Mungkin, beliau menginginkan kita untuk selalu waspada dalam menjalani kehidupan sehari-hari agar tidak mendapati kematian kita dalam kondisi yang merugi (belum shalat wajib, dll.).

Dan juga, beliau mengingatkan kepada kita ketika akan menjalankan shalat Tahajud, sebaiknya kita melaksanakan sunnah Rasul SAW yang kemungkinan kita lupakan, yaitu setelah berwudhu kemudian keluar rumah, melihat bintang-bintang sambil membaca Al – Imran 190-195 katanya. (Klo yang ini baru tahu saya hhhah…)

Terimakasih, cukup sekian review dan sharingnya. Wassalamu’ailaikum wr. wb.. ^^

Advertisements


2 Comments

Beristirahat di Masjid Al – Irsyad / Ka’bah

Perjalanan ini dilakukan bersama teman – teman dari kota Tasikmalaya, Rifki Ramdhan M. (Teman SMA, hobi ngulik soal matematika, sebangku deuih :P) dan Mumu Setyawan (Teman baru–rame oge mun diskusi, calon ustadz kondang hhe…).

475546_4128341255530_1169247900_o

(mumu, rifki, diki)

Masjid Al – Irsyad atau dikenal juga dengan sebutan masjid Ka’bah merupakan masjid yang dibangun di kota Baru Parahyangan, Padalarang, oleh seorang arsitek kenamaan Indonesia Emil Ridwan Kamil pada tahun 2010. Menjadi satu-satunya bangunan tempat peribadatan di Asia yang masuk 5 besar “Building of The Year 2010”.

Masjid ini dibuat sederhana tanpa ornamen kubah ataupun menara yang menjulang tinggi. Meskipun demikian, masjid ini memiliki dinding-dinding berongga unik yang membentuk lafadz “syahadat” dan juga bertujuan untuk mengatur ventilasi udara dengan baik tanpa bantuan AC (Air Conditioning). Dan kata jamaah disana, apabila melakukan sembahyang pada senja / malam hari, cahaya dari dalam masjid akan berpendar melewati rongga-rongga dinding memperjelas lafadz “syahadatnya” dengan indah. (Hal tersebut belum saya buktikan :P)

DSC00143

Di dalam masjid juga terdapat lampu bulat berjumlah 99 dan tiap lampu ditulis dengan kata – kata asmaul husna yang berbeda-beda. Dan juga mimbar yang membelakangi kolam dan pemandangan indah dari daerah padalarang. Masjid ini didirikan di atas lahan seluas 1100 meter persegi dan berkapasitas 1500 orang jamaah. Selain menjadi tempat beribadah, juga menjadi tujuan wisata tidak hanya bagi masyarakat bandung, tetapi juga mancanegara.

DSC00146

Sumber : Pengalaman sendiri, Indonesiaproud.wordpress.com, Koran Arsitektur, http://en.wikipedia.org/wiki/Ridwan_Kamil


Leave a comment

RAMADHAN (Just share.. eventhough It’s not the right time to share it.. :D)

Ramadhan is the ninth month of the Islamic calender, which is based on the orbiting of the moon (lunar calender) than on the orbiting of the earth (solar calender). Ramadhan is the month in which every single day is a day of fasting.

Fasting is an act of pure submission to God’s command. Fasting has many benefits, but its true significant is to develop a sense of complete obedience to the One who created us and gave us our physical and spiritual needs and the means to fulfill these needs. While many benefits come to us through fasting. The primary benefits is that we learn self-restraint, discipline of our appetites, and flexibility of our habits. Over indulgence in eating, drinking, smoking or marital relations makes one the slave of his desires and habits. Through fasting those who are well-off learn to appreciate the afflictions of the poor-hunger and thirst and become more sympathetic toward them.

Some benefits to a person’s health also result from fasting, such as the elimination of fatty substances from the blood, a decrease in the harmful activity of intestinal microbes and of uric acid, and so on.

Ramadhan is very special for moslems for there is a Night of Power (lailat-ul-qadr). It is the night in which Prophet Muhammad first received the Divine message through the agency of the Angel Gabriel. It is not known exactly which night of Ramadhan is the Night of Power, but according to Hadith, it is one of the odd-numbered nights of the last ten days of Ramadhan. Qur’an said about this night in surah 97 verses 1 – 5.

The period of keeping fast is from before dawn until sunset. During this period, one may not eat, drink, or smoke and married people in addition may not have marital relation. However, there are people who are exempt from fasting :
1. Sick peole whose health is likely to be severely affected by the observance of fasting. They may postpone the fast as long as they are sick and make up for it later, a day for a day.
2. People who are travelling. They are to make up later, the days which were missed.
3. Pregnant women and nursing mothers, They must make up for it later, a day for a day or pay “fidyah”.
4. Women during the period of menstruation or confinement after childbirth. They must make up for it later, a day for a day.
5. Men and women who are too old and feeble to undertake the obligation and to bear its hardship, if they can afford it, they must pay “fidyah”.
6. Children under the age of puberty, however, it is good to encourage them to fast for example a half day.
7. Insane people

Since Ramadhan is a month of spiritual discipline, it is recommended to fill the days by reading Qur’an, giving charity and restraining the temper. It is a customary to take meal during the night, before dawn begins to break. This meal is called “suhoor”. It is also customary to break one’s fast as soon as the sun has set with a light snack. This breaking of the fast is called “iftar”. It is suggested not to overeat in order to compensate for the period of fasting.

After Ramadhan has ended, Eid-ul-fitr – the festival of fast breaking – takes place on the first day of shawwal. Eid is a day of thanks-giving and rejoicing for the fullfillment of the obligation of fasting according to God’s command. In the morning, at some time after sunrise and before midday, a special congregational prayer is offered.

Source : Bu Maryam PQEC when in around 2010 year

Enhanced by Zemanta